“TENTANG WARISAN”
Seorang bernama Willy Hoff Suemmer menuturkan sebuah cerita menarik yang isinya sebagai berikut:
Di Perancis, seorang lelaki tua akhirnya hidup sebatang kara, setelah ditinggal mati oleh isri dan anak tunggalnya. Buat kebanyakan orang untuk apa hidup terus? Kemudian ia meninggalkan rumahnya, memilih beberapa ekor domba, dan pergi ke lembah “Cavennen” , sebuah daerah yang sepi, jauh dari keramaian. Ia ingin melupakan masa lalunya disana.
Di daerah itu masih tersisa puing-puing reruntuhan lima desa yang telah ditinggalkan oleh penduduknya karena alasan-alasan yang tak diketahuinya. Lelaki tua itu memperkirakan bahwa seluruh daerah itu akan menjadi gurun yang gersang bila tidak ada pohon yang tumbuh. Lalu, ia memutuskan untuk bermukim disana.
Dalam perjalanan menggembalakan domba-dombanya, lelaki tua itu memunguti biji-biji oak, memilih yang masih baik, dan merendamnya dalam seember air. Hari-hari berikutnya, dengan sebatang besi, dilubanginya tanah-tanah yang dilaluinya dan ditanamkannya biji-biji oak itu satu demi satu.
Dalam waktu tiga tahun, ia telah menanam 100.000 biji pohon oak. Ia berharap setidaknya 10.000 biji oak akan tumbuh. Ia juga berharap dapat diberi umur beberapa tahun lagi untuk teruus melakukan hal yang sama.
Ketika ia akhirnya meninggal dunia di tahun 1947, dalam usia 89 tahun, laki-laki tua itu telah berhasil menumbuhkan sebuah hutan yang paling indah di Perancis. Hutan itu terbentang sepanjang 11 kilometer dengan lebar 3 kilometer.
Apa yang terjadi sebagai hasil pertumbuhan hutan pohon oak itu? Kini, ada jutaan akar yang mampu menampung air hujan dann menyuburkan daerah itu. Aliran-aliran sungai kecil tercipta lagi . Rerumputan dan bebungaan tumbuh subur. Burung-burung kembali ke hutan, Kehidupan pun berubah disana. Sejumlah orang kembali menghuni daerah tersebut. Dan, setiap orang kembali merasa bahagia, menikmati hidup, dan menyelenggarakan berbagai pesta. [Sumber : 1.500 Cerita Bermakna karya Frank Mihalic; Penerbit Obor, 1997; hlm 78,79].
Jikalau kita sebagai pembelajar di sekolah kehidupan pastilah sangat tersentuh oleh cerita sederhana itu. Terbesit di pemikiran-pemikiran bahwa bergulat suatu pertanyaan :
“APAKAH YANG AKAN KAMU TINGGALKAN SEBAGAI WARISAN YANG BERGUNA BAGI SEJUMLAH ORANG, BILA KELAK KAMU DIANTAR KE PEKUBURAN???
Cerita semacam itu memberikan inspirasi. Setiidaknya memberikan sejumlah pelajaran berikut ini.
Pertama, untuk dapat memberi makna pada hidup, kita pertama-tama perlu mengatasi kesedihan dan penderitaan hidup kita sendiri. Kita harus meninggalkan masa lalu. Dalam arti tidak mengizinkan kenangan masa lalu membuat kita pasif, apatis, dan hanya menunggu mati. Kita tidak boleh terperangkap oleh “penjara memori” tetapi harus maju bersama imajinasi kreatif yang menumbuhkan pengharapan akn kondisi yang lebih baik.
Kedua, jika kita bersedia membuka mata budi dan mata batin kita untuk menatap masa kini [realita], maka dengan segera kita akn melihat begitu banyak persoalan dan kondisi yang memprihatinkan. Begitu banyak “uing-puing reruntuhan” yang patut diduga akan mendatangkan “kegersangan” bagi siapa saja yang hidup di masa depan.
Dalam konteks kita di Indonesia, “Puing-puing reruntuhan” itu bisa berarti banyak. Misalnya, hutan-hutan yang gundul akibat penjarahan atau penebangan yang tak bertanggung jawab (Illegal Logging); Korupsi yang merajalela di hampir segala lapisan birokrasi baik dari eksekutif, yudikatif maupun legislatif bahkan menjalar sampai ke tingkat lapisan bawah seperti Kelurahan, pedesaan. Proses pembelajaran bodoh yang memberangus ‘kreativitas’ anak-anak di lembaga-lembaga persekolahan dengan membebani mereka dengan banyaknya mata pelajaran yang diberikan, banyaknya tugas yang terkadang substansinya tidak jelas dan tidak nyambung dengan apa yang diajarkan; Pelakasanaan hukum yang serba tanda tanya “Sistem Hukumnya baik tapi tidak memihak terhadap apa yang dinamakan ‘keadilan’; Kesenjangan sosial yang begitu curam seperti puisi Adrie Massardi, Ini negeri para bedebah dimana para Pemimpinnya hidup mewah, sementara Rakyatnya makan dari mengais sampah; Politik uang yang mendominasi proses perebutan kekuasaan, sering terjadi money politics dan Black Campaign di tingkat Pilkada, Pileg, Pemilu bahkan dalam pemilihan Kepala Desa ataupun juga Camat ataupun dalam seleksi CPNS. Pelecehanterhadap hak-hak asasi warga negara yang tak berpunya; Konsumerisme serta materialisme yang terus menganiaya Idealisme kamu muda; Rendahnya minat baca dan kemampuan menulis, juga di kalangan kamu terpelajar lulusan perguruan tinggi,dll. Semua itu memerlukan penanganan yang serius. Agar bisa ditangani secara serius dan sungguh-sungguh, harus ada yang bersedia “bermukim” di sana, menggunuli isu-isu tersebut sepanjang sisa hidupnya.
Ketiga, kita tidak boleh berhenti pada keprihatinan saat menyaksika kondisi-kondisi buruk semacam itu. Kita harus meneukan car untuk memberikan tanggapan kreatif atas kondisi tersebut. Sambil tetap menjalani keseharian kita, mencari nafkah hidup secara wajar, kita perlu belajar “memunguti biji-biji oak”, lalu ”memilih yang masih baik”, dan kemudian “merendamnya dalm seember air” artinya adalah kita perlu mendengarkan gagasan-gagasan yang ditawarkan banyak pihak, lalu memilih gagasan yang bersesuaian dengan kemampuan dan kompetensi kita, lalu membersihkannya dengan niat yang tulus ikhlas,untuk kemudian kita nyatakan dalam perbuatan nyata, betapapun kecilnya dan sederhananya tindakan itu [seperti melubangi tanah dan menanamkan biji-biji oak itu]
Keempat, agar usaha-usaha perbaikan sampai mengubah kondisi menjadi lebih baik, kita perlu menjaga konsistensi dalam memperjuangkan hal-hal kecil sederhana, tanpa berharap terlalu banyak dan terlalu cepat. Diperlukan apa yang pernah disebut Eep Saifulloh Fatah (Pengamat politik yang cerdas) sebagi “kesabaran revolusioner”, kesabaran semacam itu perlu , terutama untuk menjaga semangat juang ketika hasil-hasil yang diharapkan seolah-olah tak kunjung datang.
Dalam bahasa K.H. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, untuk mengubah kondisi yang buruk di sekitar kita, harus ada keberanian untuk memulai dari diri sendiri [berhentu menuntut dan menyalahkan semua pihak]; memulai dari hal-hal kecil [yang sesuai dengan kapasitas dan lingkar pengaruh kita]; dan memulainya saat ini juga [tidak menunggu sampai ada segala sesuatu tersedia untuk bertindak]. Itulah formula sederhana yanng akan sangat berguna bagi siapa saja yang berkeinginan kuat untuk memberiakan tanggapan kreatif atas persoalan-persoalan kehidupan kita di negeri ini. Dan, cerita lelaki tua dari lembah Cavennen itu bisa menjadi contoh konkret dari formula Aa Gym tersebut.
Formulanya sederhana. Baik cerita lelaki tua di lembah Cavennen maupun gagasan Aa Gym tidak rumit dan berbelit-belit. Tidak diperlukan kecerdasan super untuk memahaminya. Namun, untuk melaksanakan hal yang sederhana secara konsisten tidak pernah mudah. Ada begitu banyak tantangan yang menghadang dan menggoda kita untuk menyerah dan berhenti berusaha. Frustasi dan putus asa begitu sering muncul menganiaya harapan. Begitu besar hasrat untuk mencari jalan pintas agar dapat segera melihat dan mungkin ikut menikmati hasil-hasil usaha kita.
Di sekolah kehidupan Indonesia Universitas Semesta Alam marilah kita terus banyak belajar mencari tempat-tempat atau wilayah diamana kita bisa ‘bermukim’ dan melakukan tindakan-tindakan sederhana sepanjang sisa hidup kita. Terus berusaha menjaga konsistensi kita dalam menjalani hal-hal yang kita yakini, “Kesuksesan itu tentang menjalani kesabaran dalam hal-hal yang kita jalani sehari-hari” (Danang A.P). Kesadaran bahwa sesungguhnya kita semua telah diberikann rahmat untuk mampu menanggapi segala persoalan di sekitar kita secara kreatif. Mudah-mudahan rahmat ang sunguh besar ini tidak kita sia-siakan. Siapa tahu kelak, ketika kita suada tiada, akan muncul sebuah “hutan kecil yang berguna bagi anak dan cucu di negeri tercinta…..
(“Membangun Spirit Keberhasilan dengan Memulung dari Sekolah Kehidupan”. Tentang Warisan, 2006 Gradien Books. -ANDRIAS HAREFA-)